Hermeneutika Al-Quran


HERMENEUTIKA AL QURAN



A.    Pengertian Hermeneutika
Hermeneutika berasal dari akar kata Yunani, hermeneutika berarti menafsirkan, sedangkan hermeneutika sebagai derivasinya berarti penafsiran. Kedua kata tersebut diasosiasikan mempunyai kaitan dengan tokoh yang bernama Hermes atau Hermeios yang dalam metologi yunani kuno dianggap sebagai utusan dewa Olympus yang bertugas menyapaikan dan menerjemahkan pesan dewa kedalam bahasa yang bisa dipahami manusia.
Secara sederhana hermeneutika biasanya diartikan sebagai seni dan ilmu untuk menafsirkan teks-teks. Dalam definisi yang lebih jelas, hermeneutika diartikan sebagai sekumpulan kaidah atau pola yang harus diikuti oleh seorang mufasir dalam memahami teks. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, hermeneutika ternyata tidak hanya digunakan untuk memahami teks, khususnya teks suci keagamaan, melainkan meluas untuk semua teks, baik sastra, karya seni maupun tradisi masyarakat.

B.     Sejarah singkat hermeneutika
Sebagai istilah ilmiah, hermeneutika diperkanalkan pertama kali sejak munculnya buku dasar-dasar logika. Perihal hermenies karya Aristoteles. Sejak saat itu pula konsep logika dan penggunaan rasionalitas diperkenalkan sebagai dasar tindakan hermeneutis.
Konsep ini terbawa dari tradisi beberapa agama ketika memasuki abad pertengahan (medieval age). Hermeneutika diaratikan sebagai tindakan memahami pesan yang disampaikan Tuhan dalam kitab suci-Nya secara rasional. Dalam tradisi Kristen, sejak abad ke-3 M, gereja yang kental dengan tradisi paripatetik menggunakan konsep tawaran Aristoteles ini untuk menginterpretasikan Al-Kitab. Hermeneutika kemudian keluar dari disiplin filologi, Schleiermacher menyatakan bahwa proses interpretasi jauh lebih umum dari sekedar mencari makna dari sebuah teks. Ia kemudian menjadikan hermeneutika sebuah disiplin filsafat yang baru. Hal tersebut disetujui dan dikembangkan oleh Wilhelm Dilthey di ujung abad ke-19 M. ia memadukan konsep sejarah dan filsafat serta menjauhi dogma metafisika untuk melahirkan pemahaman yang baru terhadap Hermeneutika. Walaupun melahirkan pemahaman yang tumpang tindih hubungan keilmuan yang dinamis akan sangat berperan untuk menyatukan kembali pemahaman dalam sudut pandang yang bersifat objektif.
Abad 20 M, ditandai sebagai era pro-modern dafillam sejarah filsafat barat, fenomenologi lahir sebagai paham baru yang merambah dunia hermeneutika. Adalah Martin Heidegger, yang mengatakan bahwa proses Hermeneutis merupakan proses pengungkapan  jati diridan persalahan eksistensi manusia yang sesungguhnya.
Hermeneutika diakhir abad 20 M mengalami pembaharuan pembahasan ketika Paul Ricoeur memperkenalkan teorinya. Ia kembali mendefinisikan Hermeneutika sebagai cara menginterpretasi teks, hanya saja cara cakupan teks lebih luas dari yang dimaksudkan oleh para cendekiawan abad pertengahan maupun modern dan sedikit lebih sempit jika dibandingkan dengan yang dimaksudkan oleh Heidegger. Teks yang dikaji dalam hermeneutika Ricoeur bisa berupa teks baku sebagaimana umunya, bisa berupa symbol, maupun mitos. Tujuannya sangat sederhana, yaitu memahami realitas yang sesungguhnya di balik keberadaan teks tersebut. ( https://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika )
C.    Konsep Penggunaan Hermeneutika
Pada dasarnya hermeneutika berkaitan erat dengan bahasa yang diungkapkan baik melalui pikiran, wacana maupun tulisan. Dengan demikian, hermeneutika merupakan cara baru untuk bergaul dengan bahasa. Henri Bergson, yang merupakan seorang filsuf ternama Perancis pada awal abad 20, seperti dikutip Sumaryono, mengatakan bahwa bila seseorang mampu memahami suatu bahasa, maka ia mampu memahami segala sesuatu.
Problema dasar yang diteliti hermeneutika adalah masalah penafsiran teks secara umum, baik berupa teks historis maupun teks keagamaan, bahwa hermeneutika mengkonsentrasikan diri.  Pada hubungan mufasir (atau kritikus untuk kassus teks sastra) dengan teks. Konsentrasi atas hubungan mufasir dalam, teks ini merupakan titik pangkal dan persoalan serius bagi filsafat hermeneutika. (Nasr Hamid Abu Zayd, Hermeneutika Inklusif, hlm:3)
Karena hermeneutika berhubungan erat dengan bahasa, maka ranah penerapannya pun menjadi cukup luas, terutama ilmu humanistik, sejarah, hukum, agama, filsafat, seni, kesastraan, dan linguistik. Selain itu, metode hermeneutika yang juga menjadi bagian metode penelitian budaya, merupakan salah satu metode yang dapat diterapkan dalam penelitian kajian keislaman. Apa yang menarik dari kajian hermeneutika, menurut analisa Hasan Hanafi, adalah bahwa ia tidak membedakan antara teks yang suci dan propan, antara teks agama dan teks sekuler. Karena itu, al-Quran dianggap setara dengan teks-teks lainnya. Dalam kajian hermeneutika tidak ada penafsiran yang tepat atau keliru, benar atau salah. Yang ada hanyalah upaya yang bervariasi untuk mendekati teks dari kepentingan dan motivasi yang berbeda. Konflik penafsiran adalah sebuah konflik kepentingan, bahkan didalam penafsiran linguistik atau teks, bahasa bisa saja berubah. (Ahmad Syukri Sholeh, Metodologi Tafsir Al-Quran Kontemporer Dalam Pandangan Fazlur Rahman, Hlm:77-78)
Menurut Gerald Ebiling, proses penjelasan yang dilakukan Hermes mengandung tiga konsep dasar Hermeneutika:
1.      Mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran ke dalam bentuk kata-kata (utterance, speaking) sebagai bentuk penyampaian.
2.      Menjelaskan secara rasional (interpretation, explenation) sesuatu yang masih samar agar makna atau maksudnya dapat dipahami dengan jelas.
3.      Menerjemahkan (translating) suatu bahasa yang asing ke dalam bahasa yang lebih  dikuasai audiens.
D.    Hermeneutika Al-Quran Metodologi Bible Dalam Studi Al-Quran
Ketika mengkaji bible secara kritis, para teolog Yahudi-Kristen mengakui bible yang selama ini dianggap sebagai textus receptus ternyata memiliki sejumlah kesalahan mendasar. Menggunakan blibical critism sebagai kerangka dasar dalam mengkaji Al-Quran. Selain itu beberapa sarjana muslim kontemporer seperti Mohammed Arkoun dan Nasir Hamid Abu Zaid menerapkan juga metedeologi Bibel kedalam studi Al-Quran. (Admin Armas, Metodologi Bibel dalam studi Al-Quran. Hlm:35)
E.     Aplikasi Metodologi Bibel Dalam Al-Quran
Para sarjana barat, orientalis dan islamolog barat sudah mulai menerapkan blibical criticism kedalam studi Al-Quran sejak abad ke-19 M.
Orientalis yang termasuk pelopor awal dalam menggunakan blibical critisism kedalam Al-Quran adalah Abraham Geiger (M.1874) seorang Rabbi sekaligus pendiri Yahudi Liberal di Jerman. Pada tahun 1833. Geiger menulis buku berjudul “apa yang telah Muhammad Pinjam dari Yahudi?”  didalam karyanya tersebut, ia mengkaji Al-Quran dari konteks-konteks ajaran Yahudi. Yang termasuk awal menerapkan blibical criticism  kedalam studi Al-Quran adalah Gustaf Weil seorang Yahudi Jerman (M.1889). dengan menggunakan metode kritis historis, dalam pandangan Weil, Al-Quran perlu dikaji secara kronologis. Ia menemukan tiga kriteria untuk aransemen kronologi Al-Quran:
1.      Rujukan-rujukan kepada peristiwa-peristiwa historis yang diketahui dari sumber-sumber lainnya,
2.      Karakter wahyu sebagai refleksi perubahan situasi dan peran Muhammad,
3.      Penampakan atau bentuk lahiriyah wahyu.
Kajian yang serius untuk melacak secara kritis asal muasal Al-Quran dilakukan oleh Teodor Noldeke (M.1930) seorang orientalis Jerman.
Salah seorang orientalis lain yang terkemuka yang menerapkan metode kritis-historis untuk mengkaji Al-Quran adalah Arthur Jeffery. Ia berasal dari Australia dan penganut Kristen Metodist. Ia mengahabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengkaji Al-Quran. Ia berpendapat agama yang memiliki kitab suci akan memiliki masalah dalam sejarah teks (tekstual history). Jadi, jika ada satu naskah pun tidak berubah. Sekalipun alasan perubahan itu demi kebaikan, namun tetap saja, menurut Jeffery, wajah teks yang asli sudah berubah. Manuskrip-manuskrip awal Al-Quran, misalnya tidak memiliki titik dan baris, serta tulis dengan khaf kufi yang sangat berbeda dengan tulisan yang saat ini digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
Abu Zaid, Nashr Hamid. 2004. Hermeneutika Inklusif. Jakarta: ICIP.
Armas, Adnin. 2005.Metodologi Bibel Dalam Studi Al-Qur’an .Jakarta: Bina Insani.
Syukri Soleh, Ahmad. 2007.Metodologi Tafsir Al Quran Kontemporer Dalam Pandangan Fazlur Rahman. Jambi: Sulthan Thaha Press.
https://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika diunduh pada tgl, 03 Oktober 2016 / pukul 15.00





Share on Google Plus

About Muhammad Abdullatif

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment