DAKWAH KULTURAL DENGAN SENI SUARA DAN MUSIK






Ditinjau dari etimologi atau bahasa, kata dakwah berasal dari Bahasa Arab, yaitu دَعَى-يَدْعُوْ – دَعْوَةً  yang artinya mengajak, menyeru, memanggil.

Dengan demikian, secara etimologi dakwah merupakan suatu proses penyampaian atas pesan-pesan tertentu yang berupa ajakan atau seruan dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan tersebut. 

Sedangkan secara terminologi, menurut Ibnu Taimiyah dakwah ialah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar dalam rangka menyampaikan pesan-pesan agama Islam kepada orang lain agar mereka menerima ajaran Islam tersebut dan menjalankannya dengan baik dalam kehidupan individu maupun bermasyarakat untuk mencapai kebahagiaan manusia baik di dunia maupun di akhirat, dengan menggunakan media dan cara-cara tertentu.

Dengan demikian dakwah merupakan bagian yang sangat esensial dalam kehidupan seorang muslim, di mana esensinya berada pada ajakan, dorongan (motivasi), rangsangan serta bimbingan terhadap orang lain untuk menerima ajaran agama Islam dengan penuh kesadaran demi keuntungan dirinya dan bukan untuk kepentingan pengajaknya. Dan hal inilah yang membedakan antara dakwah dengan propaganda (Amir, 2009).

Atas dasar ini, esensi dakwah dalam Islam mengajak kepada kebaikan dengan metode dan cara yang telah Allah subhanahu wata’ala firmankan:

(ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ)
Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS. An-Nahl 125]

(وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ)
Dan sebaik-baik perkataan ialah barang siapa yang mengajak kepada jalan Allah, dan beramal sholih, dan berkata sesungguhnya diriku termasuk dari orang-orang muslim. [QS Fushilat 33]
Maka dengan ayat diatas dakwah merupakan suatu hal yang mulia dan merupakan tugas bagi setiap muslim sebagaimana tugas para Nabi.
sedangkan Seni memiliki makna sesuatu yang indah atau keindahan. Kesenian adalah segala sesuatu yang menimbulkan perasaan indah sekaligus menghibur. Seni yang menjadi media ekspresi perasaan, pikiran, dan cita-cita. Secara umum, seni itu menyentuh kehidupan setiap individu sehingga berpengaruh besar terhadap pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat.

Pengertian seni musik menurut Suhastjarja adalah pengungkapan rasa keindahan seorang manusia yang diwujudkan di dalam nada atau bunyi yang pada akhirnya menghasilkan ritme dan harmoni.

Seni dalam Islam merangkum hubungan sinergis dimensi estetika, etika dan kebenaran. Oleh karenanya sangat memungkinkan untuk diolah menjadi hiburan yang dibutuhkan oleh masyarakat kaya maupun miskin. Seni suara dalam hal ini mencakup seni qira’ah, seni musik
.
Dengan demikian seni adalah manifestasi perasaan keindahan yang dibawa sejak lahir oleh setiap manusia, dan merupakan karunia dan anugrah Ilahi, oleh karenanya seni merupakan fitrah yang harus dijaga dan disalurkan dengan cara yang makruf dalam kehidupan manusia. (Mubarok, 2016)

A.  Manfaat dan Kekurangan Seni Suara dan Musik

Dalam hal ini, seni memiliki beberapa manfaat diantaranya adalah:
1.      Seni bisa menciptakan harmoni vertikal (habluminannal), dan horizontal (hablumminannas). Seni bisa dianggap sebagai refleksi langsung dari spiritualitas tertinggi dengan dimensi ekspresinya bersifat material seperti bunyi-bunyian, suara, lantunan musik, dan lain-lain.
2.      Seni dapat menjadi bermanfaat untuk menanamkan kesadaran multikultural dalam masyarakat plural.
3.      Pendayagunaan dan pendidikan seni untuk keluhuran dan kehalusan budi.
4.      Alat intuisi intelektual untuk mencerdaskan emosi dan menyampaikan pesan kodrati manusia yang mentransendensikan individu dan jiwa kolektif dunia kepada Allah.
5.      Seni dapat digunakan sebagai media dakwah apabila seni itu telah islami dalam misi dan visinya, cara bentuk artikulasi dan pengolahannya serta mebuat semakin islam pula orang yang menyajikan, mendengarkan, atau menyaksikan. (Mubarok, 2016)
6.      Terdapat pesan-pesan dakwah di dalam lirik-lirik yang dapat digunakan sebagai sarana berdakwah.
7.      Efektivitas music dapat didengar oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja.
8.      Musik merupakan Bahasa hati dan lirik-lirik dalam setiap lagu cenderung sealur dengan irama kehidupan.
Adapun kekurangan seni suara atau musik diantaranya sebagai berikut:
1.      Lirik-lirik lagu yang Islami (dalam nasyid, Qasidah, Mawaris dll) kurang dinikmati oleh masyarakat pada umumnya.
2.      Banyak pembuat lagu-lagu religi yang menciptakan lagu dan mempublikasikannya sesuai dengan pasar, event-event tertentu yang menguntungkan penjualan. Seperti pada saat Ramadhan.
3.      Para pendengaran musik hanya menganggap music sebagai hiburan semata.
4.      Penyanyi yang membawakan lagu bermuatan dakwah terkadang belum bisa menjiwai lagu yang dinyanyikannya. Karena menganggap hanya menghibur semata.
5.      Lirik-lirik lagu yang senonoh terkadang dimainkan dengan syair dan alat musik khas Islam (mawaris, rebbana dll).
6.      Terdapat kontroveksi terhadap pengharaman musik.  (http://neysya-jatidiri.blogspot.co.id/2012/10/musik-sebagai-media-dakwah.html)

Berdasarkan kelebihan dan kekurangan musik sebagai media dakwah, ternyata musik juga menimbulkan suatu kontroversi dalam masyarakat Islam. Jauh sebelumnya, sejak zaman Nabi Muhammad sholallu ‘alaihi wasalam pun sudah muncul rasa ingin tahu apakah Islam mengizinkan hal-hal yang indah (estetika). (Mubarok, 2016)

Dimana beberapa ulama membolehkan dan melarang dengan bersandar pada dalil nash dan sunnah.

Diantaranya adalah Firman Allah ‘Azza wa jalla,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” [QS. Lukman: 6]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwasanya setelah Allah menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbahagia dalam ayat 1-5, yaitu orang-orang yang mendapat petunjuk dari firman Allah (Al-Qur’an) dan mereka merasa menikmati dan mendapatkan manfaat dari bacaan Al-Qur’an, lalu Allah Jalla Jalaaluh menceritakan dalam ayat 6 ini tentang orang-orang yang sengsara, yang mereka ini berpaling dari mendengarkan Al-Qur’an dan berbalik arah menuju nyanyian dan musik.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu salah satu sahabat senior Nabi berkata ketika ditanya tentang maksud ayat ini, maka beliau menjawab bahwa itu adalah musik, seraya beliau bersumpah dan mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali.

Termasuk mukjizat yang Allah Ta’ala berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pengetahuan beliau tentang hal yang terjadi di masa mendatang. Dahulu, beliau pernah bersabda,
ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف
Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.” (https://aslibumiayu.net/9439-musik-untuk-dakwah-bolehkah-berdakwah-dengan-musik-dan-nyanyian.html )
            Adapun dalil yang menghalalkan musik sebagai berikut:
1.      Para pembela lagu dan musik menyandarkan pendapatnya dengan menggunakan Hadits “Allah akan lebih senang mendengarkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara baik dari pada pemilik budak wanita (yang mendengarkan) budaknya (bernyanyi). Para penyanjung mesik menyatakan “tidak ada nash yang shahih dan tegas yang melarang memainkan piano dan alat-alat musik lainnya.
2.      Imam yang lima, kecuali Abu Dawud meriwayatkan pernyataan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam: “Pembeda antara yang halal dan yang haram adalah rebana dan suara di dalam pernikahan”. Yang maksudnya lagu dan rebana diperbolehkan dalam pesta pernikahan.
3.      Ibnu Majah meriwayatkan pernyataan Rasulullah SAW: “umumkanlah pernikahan dan tabuhlah untuknya genderang” (HR. Ibnu Majah)
4.      Hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Nafi, mantan budak Ibnu Umar ‘Aku pernah mendengar Rasulullah mendengarkan seruling gembala, lalu  beliau melakukan seperti yang aku lakukan tadi.

Beberapa hal penting yang dipandang terkait dengan apresiasi Muhammadiyah terhadap seni, antara lain:
1.      Seni adalah bagian dari fitrah manusia, keputusan hukum bahwa seni adalah mubah selama tidak menyebabkan kerusakan, bahaya, durhaka, dan jauh dari Allah.
2.      Medium seni untuk kepentigan ibadah adalah dakwah. (Amir, 2009)

B.    Bentuk atau Contoh Aplikasi Musik Sebagai Sarana Dakwah

Musik rebana, nasyid, qiraah, nyayian sebagai metode untuk membantu anak-anak dalam menghafalkan asmaul husna, atau bait-bait tertentu yang berhubungan dengan Islam. Sebagaimana para walisongo terdahulu yang sebagian mereka berdakwah dengan menggunakan sarana alat musik seperti suling, biola, wayang dll.

C.      Seni Untuk  Berdakwah

Seni dengan misi dakwah, yaitu seni yang menyampaikan makna pesan berupa nilai-nilai Islamiyah yang di dalam interaksi sosialnya berusaha membawa audiens ke arah perubahan budaya (juga peradaban) yang lebih baik mendekati kebenaran syariat dan akidah Islamiyah.
Dalam hal ini nilai dakwah melalui kegiatan seni mampu menyentuh dimensi rasa dan kesadaran lebih dalam. Dengan menggunakan seni sebagai media dakwah, audiensi atau mad’u sebagai penerima dakwah akan merasa mendapat pesan-pesan dakwah secara universal tanpa merasa digurui.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa asal proses Islamisasi di Indonesia khususnya di Jawa, para penyebar agama Islam yakni Walisongo, menggunakan seni (seni suara: gamelan, kentrung, rebana, dll) dalam berbagai bentuknya sebagai media untuk mengembangkan dakwah Islamiyah yang ternyata mendapat sambutan mengagumkan. (Amir, 2009)
Jadi, dakwah yang disampaikan dengan memperhatikan aspek artistik dan estetik akan memiliki daya persuasi yang lebih efektif. Untuk memahami dan mengembangkan seni sebagai wujud kebudayaan manusia serta sebagai sarana dakwah dapat didekati lewat tiga strategi.
1.      Pendekatan tekstual terhadap teks-teks keagamaan baik dari segi Al-Qur’an dan al-Hadits maupun melalui jendela fiqih kebudayaan atau fikih kesenian dengan melihat entitas seni sebagai keniscayaan yang tidak dapat di dekati semata-mata lewat hukum taklifi.
2.      Pendekatan kontekstual terhadap fenomena kultural termasuk seni lewat kacamata ilmu sosial, dan ilmu humanioral.
3.      Pendekatan esoterik untuk menyingkap rahasia dibalik tabir ekspresi lahiriyah seni, untuk peningkatan rohani manusia dengan memperhatikan empati, simpati, dan berpegang teguh pada prinsip “memahami dari dalam”. (Mubarok, 2016)

D.       Peran Muhammadiyah Dalam Berdakwah Menggunakan Seni Suara dan Musik

 Dalam dunia da’wah Islam istilah metode atau strategi dikaitkan dengan siasat dakwah berdasar pada beberapa prinsip dan pola pelaksanaannya (Miswanto, 2014)
Dalam hal ini prinsip atau pola metode dakwah Muhammadiyah dalam memahami dakwah Islamiyah melalui seni, seni lebih bersifat sebagai media, alat perantara untuk mencapai tujuan dakwah. Seni menjembatani proses dakwah islamiyah. Muhammadiyah telah memberikan apresiasi dan respons jenis seni secara positif. Misalnya maraknya apresiasi seni di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah, majelis-majelis, dan organisasi-organisasi otonomnya. Secara umum, apresiasi seni warga Muhammadiyah mencakup seni tari, seni suara, seni musik, seni qira’ah dll.
Perkembangan seni yang ma’ruf dimaksudkan agar seni tersebut tidak hanya berhenti sebagai seni yang rutin dan monoton yang dipertunjukkan. Karena potensi dan nilai yang sudah dikandungnya itu, maka seni yang makruf dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan dakwah Islam. Dalam konteks inilah dakwah kultural muhammadiyah mempunyai sarana pendukung untuk melakukan konservasi yang fungsional.
1.      Melakukan seleksi dan pemilahan secara syar’I
2.      Melakukan intervensi nilai dan rekayasa nilai terhadap kategori seni sehingga statusnya bisa meningkat ke level mubah.
3.      Melakukan penguatan dan pengembangan seni dalam ruang lingkup dakwah sehingga bisa menjelma menjadi seni yang makruf.
4.      Mengembangkan modifikasi dan kreatifitas seni yang makruf.
5.      Seni tidak terlepas dari strategi kebudayaan Muhammadiyah dalam berdakwah yang bertumpu pada dimensi ajaran untuk kembali kepada Al-Quran dan as-sunah seta berijtihad dan tajdid sosial keagamaan. (Mubarok, 2016)


Daftar Pustaka

Amir, S. M. (2009). Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah.
Miswanto, A. (2014). Sejarah Islam dan Kemuhammadiyahan. Magelang: P3SI UMM.
Mubarok, A. (2016). Dakwah Kultural Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
http://neysya-jatidiri.blogspot.co.id/2012/10/musik-sebagai-media-dakwah.html. (n.d.).
https://aslibumiayu.net/9439-musik-untuk-dakwah-bolehkah-berdakwah-dengan-musik-dan-nyanyian.html . (n.d.).






Share on Google Plus

About Muhammad Abdullatif

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment