5 Adab Murid Kepada Guru

   
Ajaran tentang baik dan buruk, yang diterima umumnya tentang sikap, perbuatan, kewajiban, dan sebagainya. Etika bisa disamakan artinya dengan moral (mores dalam Bahasa latin), akhlak atau kesusilaan, berkaitan masalah nilai. Etika pada pokoknya membicarakan masalah-masalah predikat nilai susila atau tindak susila baik dan buruk. Dalam hal ini, etika termasuk dalam kawasan nilai, sedangkan nilai etika itu sendiri berkaitan dengan baik-buruk perbuatan manusia.
    Bentuk-bentuk etika secara umum diantaranya ialah etika sopan santun yang paling diutamakan, contohnya memperlihatkan rasa terima kasih pada hal-hal yang kecil. Sifat sopan santun disekeliling tempat tinggal harus diciptakan agar suasana tetap akrab dan harmonis. Sopan santun ini mempunyai banyak tempat, contoh sopan santun waktu makan, sopn santun waktu mandi, dipasar, ditempat-tempat umum dan disekolah termasuk didalamnya menghormati guru.
    Sesungguhnya adab yang mulia adalah salah satu faktor penentu kebahagiaan dan keberhasilan seseorang. Begitu juga sebaliknya, kurangnya adab atau tidak beradab adalah salah satu faktor kehancuran atau mengurangi keberkahan sebuah ilmu. Tidaklah kebaikan dunia dan akhirat kecuali dapat diraih dengan adab, dan tidaklah tercegah kebaikan dunia dan akhirat melainkan karenanya kurangnya adab atau etika.
    Diantara adab-adab yang telah disepakati adalah adab murid kepada syaikh atau gurunya. Imam Ibnu Hazm berkata “para ulama bersepakat, wajibnya memuliakan ahli al-Quran, ahli Islam dan Nabi. Demikian juga memuliakan khalifah, orang yang mempunyai keutamaan dan orang yang berilmu”.
Berikut ini beberapa adab yang selayaknya dimiliki oleh penuntut ilmu ketika menimba ilmu kepada gurunya.
1.    Murid Harus Mensucikan Hatinya
    Imam An-Nawawi berpendapat bahwa seorang murid harus mensucikan hatinya dari berbagai macam penyakit hati agar dengan mudah menerima ilmu dan menghapalnya untuk selanjutnya diamalkan. Karena bersihnya hati dalam menyerap ilmu sama halnya dengan bersihnya tanah dalam menerima benih untuk ditanami.
2.    Memuliakan atau Menghormati Guru
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ عَبْد اللَّهِ بْن أَحْمَد وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ عُثْمَانَ بْنِ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ لَيْثٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيد بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاس يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ الْكَبِيرَ وَيَرْحَمْ الصَّغِيرَ وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنْ الْمُنْكرْ
    (AHMAD - 2214) : Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, Abdullah bin Ahmad berkata; aku telah mendengarnya dari Utsman bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Laits dari Abdul Malik bin Sa'id bin Jubair dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dan dia merafa'kannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil serta tidak menyuruh kepada kebaikan dan melarang yang mungkar."
    Bukan bagian dari golongan ku, dia yang tidak menghormati yang lebih tua atau menyayangi yang lebih muda. Dalam hal ini, kita harus menghormati dan menyayangi terhadap siapa pun, terlebih terhadap orang yang kita kenal. Dalam ruang lingkup pendidikan, seorang guru hendak lah menyayangi yang lebih muda atau lebih di kenal sebagai seorang murid, dan murid hendak lah menghormati yang lebih tua atau lebih dikenal sebagai seorang guru.
    Imam Nawawi rahimahullah berkata: “hendaknya seorang murid memperhatikan gurunya dengan pandangan penghormatan. Hendaklah ia meyakini keahlian gurunya dibandingkan yang lain. Karena hal itu akan menghantarkan seorang murid untuk banyak mengambil manfaat darinya, dan lebih bisa membekas dalam hati terhadap apa yang ia dengar dari gurunya tersebut.”
3.    Mendoakan Kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ أَتَى إِليْكُم مَعْروفاً فَكَافِئُوه فَإِنْ لَمْ تَجِدوا فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى يَعلَمَ أن قَد كَافَئْتُمُوه
“Apabila ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah dengan balasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia hingga engkau memandang telah mencukupi untuk membalas dengan balasan yang setimpal.” (HR. Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod no. 216).
Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang penuntut ilmu mendoakan gurunya sepanjang masa. Memperhatikan anak-anaknya, kerabatnya dan menunaikan haknya apabila telah wafat”.
4.    Rendah hati kepada Guru
    Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang murid mengetahui bahwa rendah dirinya kepada seorang guru adalah kemuliaan, dan tunduknya adalah kebanggaan.”
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan kemuliaan dan kedudukannya yang agung, beliau mengambil tali kekang unta Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu seraya berkata: “Demikianlah kita diperintah untuk berbuat baik kepada ulama.”
5.    Mencontoh Akhlaknya
    Hendaklah seorang penuntut ilmu mencontoh akhlak dan kepribadian guru. Mencontoh kebiasaan dan ibadahnya.
Imam as-Sam’ani rahimahullah menceritakan bahwa majelis Imam Ahmad bin Hanbal dihadiri lima ribu orang. Lima ratus orang menulis, sedangkan selainnya hanya ingin melihat dan meniru adab dan akhlak Imam Ahmad.
Wallahu ta’ala a’lam
Share on Google Plus

About Muhammad Abdullatif

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment