Realitas Kurikulum 2013


Pendidikan merupakan aspek yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Setiap tatanan kehidupan manusia adalah bagian dari proses sekaligus produk pendidikan untuk menjadikan manusia memiliki tatanan kehidupan yang lebih berkualitas.
Pendidikan bersifat integratif dan komperhensif yang berarti memiliki aspek atau materi yang beraneka ragam dan saling berkaitan antara materi satu dengan yang lainnya. Pendidikan tidak hanya mengarahkan kualitas pikiran saja, tetapi juga menyangkut etika dan kecerdasan mekanik atau otot. Oleh Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup dilihat dari keberhasilan melahirkan keterampilan kognitif atau efektif atau psikomotorik saja, melainkan juga dalam ranah afektif, kognitif dan psikomotorik.
Jean Piaget dalam perkembangan kognitif mengatakan bahwa pendidikan harus sesuai dengan perkembangan kemanusiaan. Artinya, pendidikan harus selalu memperhatikan aspek perkembangan atau kemampuan yang dimiliki oleh setiap manusia dan memperhatikan aspek dinamika yang berkembang ditengah masyarakat yang meliputi ilmu pengetahuan, tekhnologi dan budaya.
Menurut kewajaran logika manusia, semakin lengkap peralatan akibat perkembangan dan dinamika kehidupan manusia, maka pendidikan akan semakin sukses dalam membimbing dan mengarahkan manusia untuk menjadi manusia yang baik.
Dalam dunia pendidikan masih banyak praktik pelaksanaan hak dan kewajiban yang tidak proposional sehingga menimbulkan persolan baru bagi pendidikan. Ada hal yang kurang professional antara orang tua dan guru atau pihak sekolah yang kurang melakukan intropeksi diri terhadap kekurangan dan kelebihan yang telah dilakukan. Akibatnya, dalam dunia pendidikan sering tersaji kekerasan dan intimidasi, baik kepada guru, guru kepada siswa maupun orang tua terhadap pihak sekolah. Radikalisme tidak hanya terjadi dalam aspek sosial, politik dan keagamaan, tetapi juga dapat terjadi dalam tatanan sistem pendidikan. Dalam artikel ini, akan dibahas bentuk radikalisme dalam dunia pendidikan khususnya dalam sistem kurikulum dan solusinya.

1.    Pendidikan
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia pendidikan berasal dari kata didik atau mendidik yang berarti memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran, didikan: hasil mendidik, pendidik: orang yang mendidik. Dengan kata lain pendidikan dapat diartikan sebagai proses perubahan sikap dan tingkah laku individu atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.
Menurut pasal 1 ayat (1) undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang ditetapkan pada tahun 1993 sebagai berikut: pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang maha esa, berbudi luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, professional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani…, menumbuhkan jiwa patriot dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan.  (Hamalik, 2005)
Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia. Untuk itu suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cinta kasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka dari itu pendidikan berdampak ganda yaitu pada individu peserta didik, masyarakat dan bangsanya (Dantes, 2014).
Konsekuensinya, proses pendidikan tidak boleh dikotori dengan sikap dan perilaku yang bertolak belakang dengan visi dan misi pendidikan yang sebenarnya. Semua element dalam proses pendidikan hendaknya saling mendukung dan bersinergi secara positif sehingga akan melahirkan kualitas proses dan produk pendidikan sesuai dengan yang dicita-citakan.

2.    Kurikulum
Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni “currieulae” artinya jarak yang harus di tempuh oleh seorang pelari. Dalam pendidikan kurikulum berarti jarak yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.
Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program itu para siswa melakukan kegiatan belajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain, sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa yang menyediakan lingkungan bagi siswa yang memberikan kesempatan belajar. Itu sebabnya, suatu kurikulum harus disusun sedemikian rupa agar maksud tersebut dapat tercapai. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran saja, melainkan meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, alat pelajaran, perlengakapan dan lain sebagainya.  (Hamalik, 2005)

3.    Realitas Pendidikan Indonesia
Realitas pendidikan di Indonesia saat ini masih jauh dari harapan. Selain perlunya perluasan kesempatan pendidikan, dari sisi kualitas, masih banyak aspek yang harus diperbaiki secara terus menerus. Realitas kompetisi global telah memaksa, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap dunia pendidikan Indonesia untuk berbenah dan terlibat dalam kompetisi ini. Hasil survei UNESCO tahun 2004 tentang kualitas pendidikan di dunia menunjukkan bahwa Indonesia berada pada tingkat ke-114 dari sekitar 175 negara di dunia. Peringkat itu jauh dibawah Malaysia, Filipina maupun Singapura. Memang cukup memprihatinkan. Akan tetapi, inilah realita sesungguhnya yang harus kita hadapi.  (Muhajir, 2016)

4.    Kurikulim 2013
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum tetap yang diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan kurikulum 2006 (yang sering disebut dengan Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan) yang telah berlaku kurang lebih selama 6 tahun.
Kurikulum 2013 memiliki empat aspek penilaian yaitu aspek pengetahuan kognitif, aspek keterampilan, aspek sikap dan perilaku. Didalam kurikulum 2013, terutama dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan.
Kebijakan pemerintah mengenai hal ini, juga memberikan dampak yang negatif terhadap element pendidikan terutama tenaga pengajar yang belum menguasai tekhnologi. Guru kurang maksimal melaksanakan tugasnya sebagai pendidik karena tuntutan kebijakan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah. Tanpa melihat kondisi lingkungan sekolah, perkembangan peserta didik dan fasilitas sekolah yang ada di sekolah tersebut. Akibatnya proses pendidikan kurang sesuai harapan karena adanya intervensi yang bersifat mengancam dari pihak-pihak lain diluar pendidikan.
Dari pembahasan tersebut, terdapat kelebihan dan kekurangan dari kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kurikulum 2013 menitik beratkan pada kemajuan tekhnologi baik dalam penggunaan laptop, lcd projektor dan yang lainnya. Akan tetapi penggunaan tekhnologi juga dapat menjadi kendala untuk sekolah-sekolah yang berada jauh dari akses perkotaan, seperti halnya sekolah-sekolah yang ada didaerah pedesaan. Adapun dampak lain dari penggunaan tekhnologi ini adalah meningkatkannya kemampuan intelektual peserta didik dalam memahami sesuatu karena mereka dituntut untuk memecahkan persoalan yang mereka hadapi. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, peranan tekhnologi sering kali berdampak negatif bagi peserta didik tersebut. Seiring perkembangan zaman, peranan pembelajaran moral akan semakin berkurang, karena guru hanya bertindak sebagai fasilitator bukan motivator. Dan penerapan metode student centered learning dalam kurikulum 2013 sedikit banyak menghilangkan transfer adab dari seorang pendidik kepada peserta didiknya yang berdampak pada perkembangan moral peserta didik tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Dantes, N. (2014). Landasan Pendidikan Tinjauan Dari Dimensi Makropedagogis. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Hamalik, O. (2005). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Share on Google Plus

About Muhammad Abdullatif

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment