Asuransi Konvensional Dalam Islam


Didalam buku Fiqih Muamalah karya Hendi Suhendi mengatakan bahwa, menurut pasal 246 Wetboek van Koophandel (kitab undang-undang perniagaan) bahwa yang dimaksud dengan asuransi adalah suatu persetujuan dimana pihak yang meminjam berjanji kepada pihak yang dijamin untuk menerima sejumlah uang premi sebagai pengganti kerugian, yang mungkin akan diderita oleh yang dijamin karena akibat dari suatu peristiwa yang belum jelas akan terjadi.
Dalam kitab undang-undang hukum dagang, asuransi di rumuskan sebagai “suatu persetujuan dimana pihak yang menanggung berjanji kepada pihak yang ditanggung untuk memberikan sejumlah premi mengganti kerugian yang mungkin akan diderita oleh pihak yang ditanggung sebagai akibat suatu peristiwa yang belum terang kapan terjadinya”.
    Dari definisi diatas dapat dipahami, bahwa dalam asuransi terdapat dua pihak, yaitu penanggung dan tertanggung. Pihak pertama berupa lembaga atau perusahaan asuransi, sedangkan pihak kedua adalah orang yang akan menanggung resiko karena suatu peristiwa yang belum terjadi. Konsekuensi dari pertanggungan ini, pihak tertanggung diwajibkan membayar uang premi kepada pihak penanggung. Dan pihak lembaga asuransi akan mengganti kerugian jika tertanggung mengalami kerugian, seperti kebakaran. Dalam kasus yang lain pihak lembaga asuransi akan mengganti kerugian tertanggung. Dikarenakan oleh suatu kejadian tidak pernah dipastikan oleh siapapun, seperti kebakaran, kehilangan, kerusakan, kecelakaan atau kematian. Jika suatu kejadian itu sudah terang akan terjadi atau pihak tertanggung berusaha agar kejadian itu terjadi maka pihak asuransi tidak berkewajiban untuk memenuhi kewajibannya, seperti perilaku si tertanggung yang dengan sengaja membakar tokonya atau orang yang tertanggung membunuh dirinya sendiri.
    Dalam Islam, asuransi termasuk masalah ijtihadiyah karena di samping tidak terdapat nash yang jelas tentang hukumnya, asuransi juga termasuk penemuan baru yang baru dikenal di dunia timur pada abad ke-19 Masehi. Oleh karena itu, kajian tentang hukum asuransi harus dilakukan secara cermat, apa tujuan dan kegunaannya serta kerugian berdasarkan hukum Islam sehingga konklusi hukum yang diperoleh dapat di pertanggungjawabkan.
Dikalangan ulama hukum asuransi menjadi permasalahan ikhtilaf (pertentangan), pendapat para ulama dapat di kelompokkan menjadi 4 pendapat yaitu:
1.    Ulama yang mengharamkan secara mutlak tanpa terkecuali di antaranya: Sayyid Sabiq, Adbullah Al-Qolqili (mufti Yordania), Yusuf Qordhowi, Muhammad Bakhi Al-Mu’ti (mufti mesir) dan Isa Abduh mereka beralasan bahwa:
    a)    Asuransi sama dengan judi
    b)    Asuransi mengandung dan mengundang ketidakjelasan dan ketidakpastian.
    c)    Asuransi mengandung unsur riba, karena pihak tertanggung akan memperoleh sejumlah uang yang jumlahnya lebih besar dari pada premi yang dibayarkan.
2.    Ulama yang menghalalkan secara mutlak tanpa terkecuali diantaranya adalah Abdul Wahab Kholaf, Musthofa Ahmad Zarqo, Muhammad Al-Bahi, Muhammad Yusuf Musa, dan Abdurrahman Isa mereka beralasan bahwa:
    a)    Tidak ada nash baik al-quran maupun hadits yang melarang asuransi.
    b)    Adanya kesepakatan dan kerelaan antara kedua belah pihak.
    c)    Keduanya saling memperoleh keuntungan.
3.    Muhammad Abu Zahra membolehkan hukum asuransi yang bersifat sosial dan mengharamkan asuransi yang bersifat komersial.
4.    Terdapat pula ahli fiqih yang menganggap hukum asuransi itu syubhat, sebab tidak ditemukan dalil yang secara tergas menyebut kehalalan dan keharamannya. 
    Kriteria Asuransi Yang Halal atau di Perbolehkan
    Perbedaan pendapat tentang hukum asuransi terkadang menimbulkan kebinggungan di masyarakat. Untuk memberikan pencerahannya harus dikemukakan argumentasi yang lebih kuat hingga kecenderungan mereka itu tertuju kepada pendapat yang lebih kuat. Maka hal yang perlu dipahami bahwa asuransi yang diharamkan seperti unsur gharar (ketidakpastian), unsur judi (spekulasi dan permusuhan) dan unsur riba (penambahan yang merugikan). Adapun asuransi yang sejalan dengan ajaran Islam adalah asuransi yang menganut sistem mudharabah, adanya transpartasi yang disebut dengan takaful. Cara kerja asuransi yang berlandaskan syariat tersebut bahwa dana yang terkumpul dari pemilik polis (si tertanggung) diinvestasikan dengan sistem mudharabah. Kemudian hasilnya dibagi secara asil sesuai dengan perjanjian antara si penggung (pihak asuransi) dengan pihak si tertanggung (pemilik polis).
    Dalam asuransi konvensional yang terdapat sekarang tampaknya tidak semua asuransi mengandung pengambilan keuntungan materi yang tidak wajar. Oleh Karena itu, pendapat yang membagi asuransi kepada asuransi yang bersifat sosial dan komersial perlu dijadikan pertimbangan hukum. Asuransi mengandung unsur komersial yang hanya mencari keuntungan belaka, maka hal ini jelas mengandung gharar dan riba, dimana ada pihak yang dirugikan, maka asuransi seperti ini hukumnya haram. Tetapi asuransi yang berorientasi kepada sifat tolong menolong yang mengutamakan keamanan dan tanggung jawab moral dan sosial yang tinggi maka asuransi seperti itu halal dan diperbolehkan oleh agama. Hal ini diperkuat dengan firman Allah ta’ala dalam surat al-Maidah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ                                                                                                                               
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
Fakta MUI
Dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) NO: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang pedoman asuransi syariah menyatakan “dalam menyongsong masa depan dan upaya mengantisipasi kemungkinan terjadinya resiko dalam kehidupan ekonomi yang akan dihadapi, perlu dipersiapkan sejumlah dana tertentu sejak dini.”
Share on Google Plus

About Muhammad Abdullatif

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment