Semir Rambut Dalam Pandangan Islam


 
A. Mengecat Rambut Dalam Islam
    Rambut merupakan anggota tubuh yang berada paling atas, yaitu kepala. Islam bukan hanya menekankan agar umatnya menampilkan akidah yang kuat fikiran yang sehat, dan hati yang bersih. Lebih dari itu, islam juga menekankan agar umatnya memiliki penampilan fisik yang prima, gagah, kuat dan berwibawa. Rambut sering kali dijadikan lambang oleh banyak orang untuk menampilkan fisik seseorang.
    Islam menganjurkan umatnya agar memiliki penampilan fisik yang berbeda dengan umat yang lain. Gaya hidup, cara berpakaian, makan dan minum, mencari nafkah termasuk rambut, adalah diantara penampilan fisik yang harus ditampilkan dengan cara yang berbeda oleh seorang muslim sesuai dengan ajaran islam. Hal ini diharapkan agar keyakinan yang bersifat batin yang dimiliki umat islam juga berbeda dengan umat lainnya. Dengan demikian, juga dapat dibedakan antara akhlak seorang muslim dengan umat lainnya. Muslim yang ikut-ikutan dengan penampilan fisiknya, dengan non-muslim di khawatirkan akan menular kepada hal-hal yang bersifat batin, seperti keyakinan, sikap dan mental. Umat islam sering kali terlena dalam pergaulannya ketika mereka bergaul dengan non-muslim, sangat lemah sekali memperhatikan urusan agamanya. Akan tetapi orang nonmuslim yang bergabung dengan umat islam senantiasa mempengaruhi umat islam dan menutupi ajarannya.
Ketika nabi berhijrah ke Madinah, beliau menginginkan agar umat islam berpenampilan beda dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi memerintahkan kepada para sahabatnya untuk melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh kaum non-muslim ketika itu. Diantaranya, seruan untuk menyemir atau mengecat rambut kepala dan dagu (jenggot) yang kesemuanya tidak dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani seperti yang dijelaskan dalam hadits:

اِنَّ الْيَهُوْدَ وَالْنَصَارَ لَا يَصْبَغُوْنَ فَخَالِفُوْهُمْ
 “Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nasrani tidak menyemir rambut mereka, maka berbedalah kamu dengan mereka (dengan mengecat rambut)”( HR. Muslim ) 

B. Warna Semir Rambut
    Mengingat semir rambut itu warnanya banyak dan berbeda-beda, adakah batasan semir rambut yang dianjurkan oleh Islam? Jadi dalam sebuat hadits di ceritakan bahwa ayah Abu Bakar yang Bernama Abu Quhafah, rambut kepada dan jenggotnya sudah memutih (beruban). Kemudian Rasulullah menyuruh untuk menyemir seraya berkata: "ubahlah warna rambutnya (semirlah) dengan warna selain hitam".
    Mengenai pemahaman hadits ini, para ulama berbeda pendapat tentang warna semir rambut. Jumhur ulama fiqih berpendapat bahwa kebolehan menyemir rambut dengan warna selain warna hitam adalah hanya untuk Abu Quhafah yang rambutnya sudah memutih (beruban) karena usianya yang sudah lanjut. Konsekuensi dari hukum ini, maka setiap orang tua sekarang yang rambutnya sudah memutih karena uban tidak boleh (haram) disemir rambutnya, kecuali dengan warna selain hitam. Warna selain hitam yang dianggap baik berdasarkan hadits Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam yang dianggap baik ialah yang berwarna hitam kemerah-merahan. Tampakmnya yang dijadikan alasan oleh ulama untuk menentukan dibolehkannya menyemir rambut dengan warna selain hitam adalah karena umur lanjut yang warnanya putih (beruban). Karena hitam adalah warna rambut umumnya orang muda. Uban dapat mengingatkan orang akan sudah dekatnya masa kematian. Orang yang sudah tua dianjurkan untuk mengecatnya dengan warna selain hitam karena cenderung bertujuan untuk identitas tampil beda dengan orang yahudi dan untuk pemeliharaan rambut.
Beberapa riwayat hadits Nabi yang dapat memperkuat bolehnya menyemir rambut dengan warna selain hitam diantaranya adalah dari Ibnu Abbas ia berkata: ada seseorang lewat di hadapan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam yang rambutnya di cat dengan warna inay (merah). Lalu Nabi berkata, “alangkah baiknya rambut itu”. Kemudian ada orang lain yang mengecat rambutnya dengan inay dan khatam (hitam kemerah-merahan, Nabi berkata, “ini lebih baik dari yang tadi”. Kemudian lewat lagi orang yang lain yang mengecat rambutnya dengan warna sufroh (kuning) Nabi berkata,”ini lebih baik dari yang keduanya tadi.”
    Sebagian sahabat, seperti Abu Bakr dan Umar, mereka pernah menyemir rambutnya Abu Bakr menyemir rambutnya dengan warna hitam kemerah-merahan. Adapun Umar dengan warna merah saja.
    Tentang hukum menyemir rambut dengan warna hitam, jika bukan alasan ketuaan (beruban) maka jumhur ulama membolehkan untuk menyemir rambut dengan warna hitam. Praktik tersebut pernah dilakukan oleh sahabat Nabi dan Tabi’in. diantaranya Utsman, Hasan dan Husan, ‘uqbah bin Amir, Ibnu Sirin dan Abu Burdah. Bahkan ulama berpedapat Sunnah yang sangat dianjurkan oleh Islam adalah menyemir rambut dengan warna hitam karena untuk siasat dalam sebuah peperangan agar kelihatan tentara islam seperti pemuda yang gagah dan kuat yang membuat musuh takut dan gentar.
    Adapun larangan menyemir rambut dengan warna hitam karena faktor usia seperti yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi bahwa Amr bin ‘Ash pernah menyemir rambut dan jenggotnya dengan warna hitam. Kemudian Umar berkunjung kerumahnya “siapa anda?” tanya Umar kepada Amr “saya Amr bin ‘ash” jawab Amr bin ‘Ash. Lalu Umar berkata, “aku kenal anda dahulu sudah tua, tetapi anda sekarang kelihatan lebih muda. Aku berharap setelah aku keluar dari rumah ini anda mau mencuci semir hitam itu.” Pinta Umar bin Khathab.
Ulama lain berpendapat bahwa menyemir rambut adalah sunnah, berbeda pendapat dengan hukum menyemir rambut dengan warna hitam. Ada yang membolehkan warna hitam, ada yang menganggap makruh, bahkan adapula yang mengharamkan warna hitam digunakan untuk menyemir rambut, dengan alasan ayahanda Abu Bakar bernama Abu Quhafah sudah beruban dan diminta untuk menjauhi warna hitam.
    Sejalan dengan larangan diatas Azzuhri pernah berkata, “kami dahulu pernah menyemir rambut-rambut kami dengan warna hitam ketika kami kelihatan muda. Tetapi ketika wajah kami mulai berkerut dan gigi kami sudah mulai bergoyang, maka kami tidak menyemir dengan warna hitam lagi.”

Berkaitan dengan warna yang paling bagus dan dianjurkan untuk digunakan untuk menyemir uban, Rasulullah memberikan petunjuk melalui sabdanya :
اِنَّ اَحْسَنَ مَا غَيَّرْتُمْ بِهِ الشَّيْبُ الحِنَاءُ وَالكَتَمُ
“Sebaik-baik bahan semir yang digunakan untuk menyemir uban adalah pohon innay (warna merah) dan pohon katam (hitam kemerahan)”. (HR. Turmudzi)
    Mencermati uraian diatas, hukum menyemir rambut sangatlah kondisional. Tidak terlepas dari illat yang menyertainya berkaitan dengan tempat dan waktu. Syeck Mamhmud Syaltut dalam kitabnya al-Fatwa, bersikap sangat moderat dalam memandang hukum menyemir rambut. Menurut Syaltut, pada prinsipnya Islam tidak mengharuskan dan tidak melarang menyemir rambut dan tidak pula mengharuskan warna semir tertentu. Hal ini berarti menyemir rambut sangat bergantung pada motif, selera, dan situasi serta kondisi yang dihadapi oleh umat islam.
    Demikian pendapat sebagian ulama mengenai hukum menyemir rambut. Disamping itu ada juga pendapat yang mengatakan bahwa menyemir rambut, memelihara jenggot, mencukur kumis sebagaimana dinyatakan di dalam hadis-hadis Nabi shollahu ‘alaihi wasallam bukanlah merupakan kewajiban tetapi hanya merupakan kebolehan saja. Hal ini dapat dilihat dengan adanya illat agar tidak sama dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dengan demikian menyemir rambut itu bukanlah ketentuan hukum yang harus dilakukan, akan tetapi hanya merupakan adat atau tradisi untuk membedakan antara jamaah umat Islam dengan ummat lain.

C.    Pendapat MUI Tentang Semir Rambut
    Status hukum menyemir rambut di Indonesia, MUI telah mengeluarkan fatwa, yaitu Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor : 23 Tahun 2012 Tentang Menyemir Rambut.
Hukum menyemir rambut adalah Mubah, dengan ketentuan sebagai berikut :
a.    Menggunakan bahan yang halal dan suci.
b.    Dimaksudkan untuk suatu jalan yang benar dan syar’i.
c.    Mendatangkan maslahat yang tidak bertentangan dengan syariat.
d.    Materinya tidak menghalangi meresapnya air ke rambut pada saat bersuci.
e.    Tidak membawa mudharat bagi penggunanya; dan menghindari pemilihan warna hitam atau warna lain yang bisa melahirkan unsur tipu daya dan dampak negatif lainnya.
Hukum menyemir rambut yang tidak memenuhi ketentuan diatas hukumnya Haram.

wallahu ta'ala a'lam
Share on Google Plus

About Muhammad Abdullatif

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment