Begini Hukum Menikahi Wanita Beda Agama di Indonesia




Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk, khususnya bila dilihat dari segi suku, etnis, bangsa dan agama. Konsekuensinya, dalam menjalani kehidupannya masyarakat Indonesia di hadapkan kepada perbedaan-perbedaan dalam berbagai hal, mulai dari kebudayaan, cara pandang hidup dan interaksi antar individunya. Salah satu hal yang dihadapi adalah hubungan antar umat beragama atau yang selanjutnya kita sebut pernikahan beda agama.

Pernikahan merupakan suatu ikatan yang sangat dalam dan bagian dari kemanusiaan seseorang. Seorang muslim yang hidup di Negara yang majemuk seperti ini hampir dipastikan sulit untuk menghindari dari persentuhan dan pergaulan dengan orang yang berbeda dalam hal agama. Seorang muslim sekarang ini lebih berani untuk memilih pendampingan hidup non muslim. Hal ini tentu saja dianggap oleh masyarakat yabg sebagian besar beragama Islam sebagai penyalahan atau pergeseran nilai-nilai Islam yang ada.

Pernikahan beda agama (khususnya laki-laki muslim menikahi perempuan non muslim atau ahlu kitab) bagi masing-masing pihak, menyangkut akidah dan hukum yang sangat penting bagi seseorang. Hal ini berarti menyebabkan tersangkutnya dua peraturan yang berlainan mengenai syarat-syarat dan tata cara pelaksanaan pernikahan sesuai dengan hukum agama masing-masing. Dalam Islam masalah ini menimbulkan pro dan kontra, masing-masing pihak memiliki argumen rasional maupun logikal yang berasal dari penafsiran mereka masing-masing.

  1. Hukum menikah dengan wanita non-muslim atau ahli kitab dalam al-Quran dan Hadits
a.      Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 5

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu”
Menurut suatu pendapat sebagaimana dikutip Ibnu Katsir yang dimaksud dengan wanita ahli kitab muhsonnah ialah yang bebas bukan yang harbi (berada dalam wilayah peperangan).

b.      Firman Allah dalam surat al-Mumtahanah ayat 10

وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ

“Dan janganlah kamu tetap berpegang teguh pada tali (pernikahan) dengan perempuan kafir“

c.       Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 221

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.”
Didalam Al-Quran terdapat dua pendapat tentang hukum menikahi wanita ahli kitab. Dalam surat Al-Maidah ayat 5 seorang laki-laki diperbolehkan menikah dengan perempuan ahli kitab selama perempuan ahli kitab tersebut berstatus sebagai ahli dzimmah dan menjaga kehormatannya. Akan tetapi disurat al-Mumtahanah dan ab-Baqarah kita dilarang menikahi dan apabila sudah menikah kita diperintahkan untuk menceraikannnya sampai dia memilih untuk masuk dalam agama Islam.

d.      Hadits Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasalam mengenai orang-orang Majusi.

سنو سنة أهل الكتاب غيرنا كحر نسائهم ولا اكل ذبائحهم

Berbuatlah kalian kepada mereka seperti yang berlaku bagi ahli kitab, selain menikahi wanita-wanita mereka dan tidak makan daging sembelihan mereka.

Didalam hadits ini Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasalam dengan jelas membolehkan menikahi wanita-wanita ahli kitab.

  1. Pendapat Ulama Mengenai Menikah Beda Agama/ Ahli Kitab
a.      Pendapat pertama
Seorang muslim halal menikahi wanita-wanita ahli kitab baik yang merdeka, yang berstatus sebagai ahli dzimmah, ataupun yang menjaga kehormatannya. (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah)

b.      Pendapat kedua
Seorang muslim haram menikahi wanita-wanita ahli kitab, baik yang merdeka, yang berstatus sebagai ahli dzimmah ataupun yang menjaga kehormatannya. (Imamiyah)
Menurut pendapat yang pertama, Jarir At-Thobari mengatakan bahwa perempuan musyrik yang dimaksud adalah perempuan musyrik bangsa arab saja sebab ketika turunnya al-Quran, mereka adalah penyembah berhala dalam keadaan tidak memiliki kitab suci. Jadi, dalam hal ini diperbolehkan menikahi wanita ahli kitab.

Adapun menurut pendapat yang memperkuat keharaman menikahi seorang wanita yang tidak beriman terutama penyembah berhala dan kaum ateis, menurut al-maududi sebagaimana di kutip oleh Abdul Mutaal karena kedua macam kelompok tersebut teramat jauh pemisahnya dari agama Islam.
 Wallahu Ta'ala A'lam




Ref:
1. Ringkasan Tafsir Ath-Thobari tentang wanita.
2. Shidiq, safrudin.2016. Fiqih Kontemporer. Jakarta: Kencana. 
Share on Google Plus

About Muhammad Abdullatif

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment