Hukum Rokok dan Dampak Bagi Kesehatan


A.     

pengertian Rokok
Kata tembakau dalam bahasa Indonesia, merupakan sebuah kata serapan dari bahasa asing. bahasa Spanyol “tabaco” dianggap sebagai asal kata dalam bahasa Arawakan, khususnya, dalam bahasa Taino di Karibia, disebutkan mengacu pada gulungan daun-daun pada tumbuhan ini (menurut Bartolome de Las Casas, 1552). Bisa juga dari kata “tabago”, sejenis pipa berbentuk y untuk menghirup asap tembakau (menurut Oviedo, daun-daun tembakau dirujuk sebagai Cohiba, tetapi Sp. tabaco (juga It. tobacco) umumnya digunakan untuk mendefinisikan tumbuhan obat-obatan sejak 1410, yang berasal dari Bahasa Arab “tabbaq”, yang dikabarkan ada sejak abad ke-9, sebagai nama dari berbagai jenis tumbuhan. Kata tobacco (bahasa Inggris) bisa jadi berasal dari Eropa, dan pada akhirnya diterapkan untuk tumbuhan sejenis yang berasal dari Amerika. (http://id.wikipedia.org/wiki/Tembakau, akses 5 Oktober 2010).
Sedang rokok merupakan hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nico- tiana tobacum, Nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan (PP No. 81, 1999). (Umi Istiqomah, 2003: 20)
B.      Bahaya Merokok
Diantara bahaya merokok yang di umumkan fakultas kedokteran Britania ialah:
1.       Setiap tahun 27.500 orang Britania meninggal karena merokok, dan usia mereka berkisar antara 34-65 tahun. 
2.       Setiap tahun 155.000 orang Britania akan mati karena 80% diantaranya disebabkan serangan penyakit paru-paru. 
3.       Sembilah puluh persen kematian karena serangan penyakit paru-paru itu disebabkan oleh rokok. 
4.       Sebab-sebab pokok terjadinya kematian pada perokok itu antara lain mereka terserang bermacam-macam penyakit seperti paru-paru, saluran pernafasan, jantung, penyakit-penyakit urat nadi, penyakit tenggorokan, kanker payudara, kanker mulut, serta kanker tenggorokan dan kerongkongan. Anak-anak yang dilahirkan oleh wanita perokok itu lebih banyak mengalami keguguran.

C.      Hukum Rokok
1.       Golongan yang mengharamkan
         Orang-orang yang mengharamkan rokok mengemukakan beberapa alasan sebagai berikut:
a.       Rokok merupakan Termasuk Khabaits
Rokok diharamkan karena ia termasuk Khabits (sesuatu yang buruk) dan mengandung banyak sekali mudharat, sementara Allah hanya membolehkan makanan, minuman dan selain keduanya yang baik-baik saja bagi para hamba-Nya dan mengharamkan bagi mereka semua yang buruk (Khaba’its). Dalam hal ini, Allah ta’ala berfirman:
يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ
Mereka menanyakan kepadamu, apakah yang dihalalkan bagi mereka. Katakanlah, dihalalkan bagimu yang baik-baik saja (Al-Maidah: 4)

Demikian juga dengan firmannya ketika menyinggung sifat nabi Muhammad dalam surat al-A’raf
يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (Al-A’raf : 157)
b.      Karena memabukkan
Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa rokok itu memabukkan. Sedangkan tiap-tiap yang memabukkan itu hukumnya haram. Yang dimaksud dengan muskir (memabukkan) menurut mereka ialah segala sesuatu yang dapat menutup akal. Meskipun hanya sebatas tidak ingat. Mereka berkata tidak diragukan lagi bahwa kondisi seperti ini dialami oleh orang-orang yang pertama kali melakukannya“
Jadi, rokok dengan segala jenisnya bukan termasuk ath-thayibat (segala yang baik) tetapi ia adalah al-khabits. Demikian pula, semua hal-hal yang memabukkan adalah termasuk al-khabaits. Oleh karenanya, tidak boleh merokok, menjual ataupun berbisnis dengannya sama hukumnya seperti khamr (Arak).

c.       Karena melemahkan badan
Mereka berkata “kalaupun merokok itu tidak sampai memabukkan, minimal perbuatan ini dapat menyebabkan tubuh menjadi lemah dan loyo” dari ummu salamah berkata:
“Bahwa rasulullah melarang sesuatu yang memabukkan dan melemahkan” (HR Ahmad dan Abu Daud)
Mereka menjelaskan bahwa al-muftir ialah sesuatu yang menjadikan anggota badan lemah dan loyo. Hadits ini cukup menjadi dalil yang menunjukkan keharamannya.
d.      Menimbulkan madharat
Mudharat yang mereka kemukakan disini terbagi menjadi dua macam:
1)      Dharar badani (bahaya yang mengenai badan) menjadikan badan lemah. Wajah pucat, terserang batuk, bahkan dapat menimbulkan penyakit paru-paru.
2)      Dharar mali (mudharat pada harta) yang dimaksud ialah bahwa merokok itu menghambur-hamburkan harta (tabdzir), yakni menggunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bagi badan dan ruh, tidak bermanfaat di dunia dan akhirat. Sedangkan nabi Sholallahu ‘alaihi wasalam telah melarang membuang-buang harta, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra’ 26-27
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا ()وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya permboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Salah seorang ulama berkata: bila seseorang sudah mengakui bahwa ia tidak menemukan manfaat rokok sama sekali, maka seharusnya rokok itu diharamkan, bukan dari segi penggunaannya, tetapi dari segi pemborosan. Karena menghambur-hamburkan harta itu tidak ada bedanya, apakah dengan membuangnya ke laut atau dengan membakarnya, atau dengan merusaknya.
Adapun ulama yang mengharamkan dan melarang rokok adalah Syeikhul Islam Ahmad As Sanhuri Al Bahutani al Hambali, dan dari kalangan madzhab Maliki ialah Ibrahim Al Laqqani, Abul Ghaits Al Qasyasy.
2.       Golongan yang memakruhkan
Adapun golongan yang mengatakan bahwa merokok itu makruh mengemukakan alasan-alasan sebagai berikut:
a.       Merokok itu tidak terlepas dari dhara (bahaya), lebih-lebih jika terlalu banyak melakukannya. Sedangkan sesuatu yang sedikit itu bila diteruskan akan menjadi banyak.
b.      Mengurangkan harta. Kalai tidak sampai pada tingkat tabdzir israf, dan menghambur-hamburkan uang, maka ia dapat mengurangkan harta yang dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sahabatnya dan bagi orang lain.
c.       Dapat melalaikan orang untuk beribadah secara sempurna
d.      Bau dan asapnya mengganggu serta menyakiti orang lain yang tidak merokok. Segala sesuatu yang dapat menimbulkan hal seperti ini makruh menggunakannya, seperti halnya memakan bawang mentah, kucai dll.
e.      Jika perokok menghadiri suatu majlis, ia akan mengganggu orang yang lain, maka hendaklah ia malu melakukannya.
Syeikh Abu Sahal Muhammad bin Al Wa’izh Al Hanafi berkata: dalil-dalil yang menunjukkan kemakruhannya ini bersifat Qath’i sedangkan yang menunjukkan keharamannya bersifat dzanni. Hal ini disebabkan segala sesuatu yang baunya mengganggu orang lain adalah makruh dan memiliki dampak negatif yang lebih banyak.
3.       Golongan yang memperbolehkan
Golongan yang memperbolehkan merokok ini berpegang pada kaidah bahwa asal segala sesuatu itu boleh, sedangkan anggapan bahwa rokok itu memabukkan atau menjadikan lemah itu benar.
D.      Hukum menurut syariat
Dari sudut pandang syariat rokok diharamkan berdasarkan makna yang terindikasi dari dzahir ayat Al-Quran dan Assunnah serta I’tibar (logika) yang benar.
Dalil al-Quran adalah firman Allah
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. (Al-Baqarah : 195)

Makna dari ayat ini adalah janganlah kamu melakukan sebab-sebab yang menjadi kebinasaanmu.
Wajhud dilalah (aspek pendalilan) dari ayat tersebut adalah bahwa merokok termasuk perbuatan mencampakkan diri sendiri kedalam kebinasaan.
Sedangkan dari hadits adalah hadits yang berasal dari Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasalam secara shahih bahwa beliau melarang menyia-nyiakan harta. Makna menyia-nyiakan harta adalah mengalokasikannya kepada hal yang tidak bermanfaat. Seperti halnya dialokasikan dengan membeli rokok adalah termasuk mengalokasikannya kepada hal yang tidak bermanfaat bahkan pengalokasian kepada hal yang didalamnya terdapat ke madharatan.
                Dalil dari asssunah yang lainnya, sebagaimana hadits dari rasulullah yang berbunyi.
……………….
Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan juga tidak boleh membahayakan orang lain
Jadi menimbulkan bahaya (dharar) adalah ditiadakan (tidak berlaku) dalam syariat, baik bahaya terhadap badan, akal, ataupun harta. Sebagaimana dimaklumi pula, bahwa merokok adalah berbahaya terhadap badan dan harta.
Adapun dalil I’tibar yang benar yang menunjukkan keharaman merokok adalah karena (dengan perbuatannya) si perokok mencampakkan dirinya sendiri ke dalam hal yang menimbulkan hal yang berbahaya, rasa cemas, dan keletihan jiwa.
Muhammadiyah
Merokok hukumnya adalah haram karena:
1.       merokok termasuk kategori perbuatan melakukan khabaits yang dilarang dalam Q. 7: 157,
2.       perbuatan merokok mengandung unsur menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dan bahkan merupakan perbuatan bunuh diri secara perlahan sehingga oleh karena itu bertentangan dengan larangan al-Quran dalam Q. 2: 195 dan 4: 29,
3.       Oleh karena merokok jelas membahayakan kesehatan bagi perokok dan orang sekitar yang terkena paparan asap rokok, maka pembelajaan uang untuk rokok berarti melakukan perbuatan mubazir (pemborosan) yang dilarang dalan Q. 17: 26-27.

Forum Ijtima Ulama menetapkan dua hukum dasar pada rokok, yakni Haram dan Makruh. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin mengatakan, rokok diharamkan khusus bagi anak-anak dan ibu hamil. Selain itu, para ulama juga mengharamkan aktivitas merokok di tempat umum. Selain untuk tiga hal itu, Forum Ijtima Ulama menetapkan hukum merokok adalah makruh. 

Sumber :
Majelis, Fatwa, Tarjih Dan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tentang Hukum Merokok, Fatwa Tentang, and Hukum Merokok, ‘Fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah’, 2010, 1–8
Trigiyatno, Ali, ‘Fatwa Hukum Merokok Dalam Perspektif MUI Dan Muhammadiyah’, 57–75
Al-Juraisiy, Khalid. Fatwa-fatwa terkini 2.
Qordhowi, Yusuf. Fatwa- Fatwa Kontemporer.
Wallahu ta’ala A’lam
Share on Google Plus

About Muhammad Abdullatif

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment